Senin, 26 Januari 2009

Nasib 100% Takdir?

Selasa, 27-01-2009 06:49:49 oleh: wawan
Kanal: Opini


Tulisan ini dibuat empat jam setelah saya melayat di rumah seorang teman lama.

Setelah misa requiem, (ritual doa melepas jenazah dalam agama Katolik) saya menyempatkan diri mendengar kesaksian tetangga almarhum mengenai kejadian di hari naas tersebut. Teman lama itu meninggal pada suatu sore setelah kakinya digigit ular weling pagi harinya.

Setelah mendengar cerita tersebut, saya merenungkan tentang nasib manusia. Sebenarnya nasib itu digariskan secara pasti oleh Tuhan, ataukah Tuhan sudah memiliki rencana tapi masih bisa diinterupsi oleh manusia.

Pola pikir yang saya gunakan menggunakan skema pohon keputusan, di mana pada setiap titik keputusan, yang bersangkutan memiliki paling tidak dua pilihan. Dan jika pilihan tidak dilakukan, keputusan tetap akan berjalan dengan sebuah konsekuensi yang otomatis berlaku baginya.

Pada titik pertama, adalah malam sebelum kejadian. Yang harus diputuskan adalah dia tidur di mana. Saat itu, menurut kesaksian, ia mengeluh takut sehingga tak berani tidur di kamarnya sendiri. Persoalannya adalah ia ingin tidur dimana. Di tempat tidurnya sendiri atau di tempat lain. Jika di tempat lain, ia tidur di mana. Dan ia memutuskan untuk tidur di kamar adiknya. Karena adiknya seorang cewek, dan ia cowok, maka tak mungkin mereka tidur saling bersebelahan satu tempat tidur. Ia kemudian tidur di lantai. Dan inilah awal dari petaka itu. Ular merayap pada kakinya, dan kemudian menggigit. (Mungkin kakinya digigit karena menindih badan ular.)

Pada titik ke dua, ia menolak disuntik ketika di periksa di RS Mitra Sehat, Jalan Wates, Yogyakarta. Akibatnya racun tetap menyebar, dan ia meninggal sore harinya, meski ia dirawat di sebuah rumah sakit di Kota Yogyakarta.

Mungkin masih ada simpul-simpul lain yang lebih kecil yang tidak disebutkan di sini namun tetap mempengaruhi hasil akhir.

Tulisan ini tak hendak menyalahkan/menggugat siapa pun, namun saya pikir, dalam kasus macam ini, peluang untuk selamat masih terbuka dalam kurun beberapa jam setelah ia digigit ular, jika pilihan yang tepat dilaksanakan.

Dalam sebuah diskusi tentang sejarah Kekristenan, ada yang bertanya, seandainya Yudas tidak menjual Yesus, apakah proses penebusan akan tetap terjadi. Narasumber menjawab bahwa seandainya Yudas tidak menjual Yesus, pasti Tuhan memiliki rencana lain.

Apakah nasib sudah digariskan dengan pasti sebelumnya?

Saya berpendapat bahwa nasib memang sudah digariskan, namun masih bisa diralat. Menurut saya nasib manusia ada tiga macam.

Pertama, bahwa seseorang direncanakan mati usia senja dan itu yang terjadi.

Kedua, bahwa seseorang direncanakan mati usia senja, namun ia ingin mati lebih dahulu sebelum waktunya.

Ketiga, bahwa seseorang direncanakan mati usia senja dan itulah yang diinginkannya, namun karena sesuatu hal maka ia mati sebelum waktunya. Dia mati karena salah mengelola hidup atau karena kesialannya. Mati karena salah mengelola hidup contohnya makan makanan yang mengandung bahan karsinogen sehingga ia mati karena kanker. Mati karena kesialan hidup contohnya adalah penumpang dua pesawat yang menabrak gedung WTC.

Namun, seperti yang sudah sekian kali terjadi, sebuah keputusan bisa kelihatan benar ketika diputuskan, namun ternyata terlihat dan terbukti tidak tepat pada waktu-waktu kemudian. Jadi, bagaimana pun kita tak tahu, apakah yang kita putuskan saat ini benar-benar “benar” ataukah hanya kelihatan “benar”.

'Mari kita tebak dadu yang tengah dilempar Tuhan.'








tulisan ini aku ambil dari "WikiMu"

Tidak ada komentar: